
Gambar diatas menunjukkan pengalaman saya ke Jakarta untuk pertama kali pada tahun 1990, suatu kebahagiaan tersendiri dapat melihat langsung ibu kota tanpa didampingi orang tua. Pada saat itu kami mengunjungi hampir semua ikon bersejarah yang ada di ibu kota termasuk instalasi militer yang tidak semua orang boleh masuk.
Seluruh pengalaman itu, rasanya masih termemori dengan baik, terlebih sampai saat ini ke 281 orang yang tampak di foto tersebut masih terjalin komunikasi yang baik. Setiap bertemu mereka selalu saja kenangan masa lalu yang dibicarakan. Bahkan uniknya beberapa kebiasaan, kelakuan, dan bahasa tubuh teman – teman rasanya tidak ada perubahan dari 16 tahun yang lalu. Yang berubah hanyalah status di masyarakat saja. Sekarang udah punya anak 3, sudah memiliki karir dan pendapatan sendiri dan seterusnya.
Tidak terasa, tahun demi tahun berlalu dengan sangat cepat. Mungkin demikian juga perasaan saya ketika saya menimang cucu pertama saya kelak. Tidak ada yang tahu itu.
O, ya beberapa rekan terbaik juga telah mendahului kami, hampir semua karena kecelakaan. Kalau tidak salah sudah 3 orang. 1 karena kecelakaan waktu pesiar semasa menempuh pendidikan di Akpol Semarang, 1 karena tertubruk KRL di Jakarta beberapa waktu yang lalu, kemudian 1 lagi pada saat latihan terbang dengan Hawknya. Ada kesamaan diantara ketiga rekan yang telah mendahului kami. Ketiganya bertutur kata halus dan santun, tidak pernah berlebih-lebihan, juga tidak pernah usil terhadap sekeliling.
Bagaimana dengan saya?

Melihat sepak terjang pak LUA, yang kadang usil, tapi nyufi. Waah,.....susah juga ya.
Yang pasti, nggak peduli santun atau tidak. Kalau sudah waktu mah,..bakal …..
Comment by bsk — February 15, 2006 @ 3:29 am