Lelaki yang nampang disebelah wamo (warung mobil) diatas bukanlah pengusaha pemilik usaha nasi bungkus tersebut. Beliau adalah rekan seperjalanan saya tatkala berangkat dan pulang dari tempat kerja.

Setiap hari kami selalu membeli masakan Ibu Nur (kalau enggak nasi krawu, ya nasi uduk) untuk mengawali pagi. Kedengarannya agak boros, tapi ada gairah lain yang tercipta setelah makan masakan Ibu Nur.

Seperti halnya Napza, mungkin kami sudah kecanduan dengan masakan Ibu Nur, sehingga terasa sekali perbedaan gairah bekerja jika satu hari saja tidak makan masakan Ibu Nur.

Adakah ini hanya masalah memuaskan keinginan lidah, atau jenuh bekerja di tempat sekarang????????????