UncategorizedFebruary 15, 2006 5:55 am

Di dunia konstruksi titik tersebut sering disebut titik ikat, bench mark, marking, dst. Sebandel dan sekorup-korupnya proses pembuatan suatu bangunan, niscaya menggunakan tools bantu ini. Gunanya banyak sekali, antara lain agar bangunan menjadi lurus, berelevasi yang sesuai dengan rencana dan seterusnya.

Disebut titik ikat karena, semua pelaksanaan bagian dari suatu bangunan, mengacu atau diikat pada titik tersebut. Semua bagian dibuat xxxx m atau cm meter terhadap nol.

Demikian dalam kehidupan nyata manusia. Undang – undang adalah titik nol(Jika undang-undang dianggap sebagai titik nol, maka setiap deviasi terhadap undang – undang adalah pelanggaran),kunci jawaban bapak dan ibu guru adalah titik nol, peraturan perusahaan adalah titik nol, lebih lanjut Al Qur’an adalah titik nol demikian seterusnya.

Lha bagaimana kalo ada yang mengeluh : waduh saya harus mulai dari nol lagi. Berarti orang tersebut sudah semestinya bersyukur, karena dengan kembali ke titik nol, rute perjalanan akan lebih tepat, peluang tersesat lebih kecil.

Begitukah???????, Embuh!!

Uncategorized 2:51 am

Lelaki yang nampang disebelah wamo (warung mobil) diatas bukanlah pengusaha pemilik usaha nasi bungkus tersebut. Beliau adalah rekan seperjalanan saya tatkala berangkat dan pulang dari tempat kerja.

Setiap hari kami selalu membeli masakan Ibu Nur (kalau enggak nasi krawu, ya nasi uduk) untuk mengawali pagi. Kedengarannya agak boros, tapi ada gairah lain yang tercipta setelah makan masakan Ibu Nur.

Seperti halnya Napza, mungkin kami sudah kecanduan dengan masakan Ibu Nur, sehingga terasa sekali perbedaan gairah bekerja jika satu hari saja tidak makan masakan Ibu Nur.

Adakah ini hanya masalah memuaskan keinginan lidah, atau jenuh bekerja di tempat sekarang????????????

Uncategorized 2:10 am

Gambar diatas menunjukkan pengalaman saya ke Jakarta untuk pertama kali pada tahun 1990, suatu kebahagiaan tersendiri dapat melihat langsung ibu kota tanpa didampingi orang tua. Pada saat itu kami mengunjungi hampir semua ikon bersejarah yang ada di ibu kota termasuk instalasi militer yang tidak semua orang boleh masuk.

Seluruh pengalaman itu, rasanya masih termemori dengan baik, terlebih sampai saat ini ke 281 orang yang tampak di foto tersebut masih terjalin komunikasi yang baik. Setiap bertemu mereka selalu saja kenangan masa lalu yang dibicarakan. Bahkan uniknya beberapa kebiasaan, kelakuan, dan bahasa tubuh teman – teman rasanya tidak ada perubahan dari 16 tahun yang lalu. Yang berubah hanyalah status di masyarakat saja. Sekarang udah punya anak 3, sudah memiliki karir dan pendapatan sendiri dan seterusnya.

Tidak terasa, tahun demi tahun berlalu dengan sangat cepat. Mungkin demikian juga perasaan saya ketika saya menimang cucu pertama saya kelak. Tidak ada yang tahu itu.

O, ya beberapa rekan terbaik juga telah mendahului kami, hampir semua karena kecelakaan. Kalau tidak salah sudah 3 orang. 1 karena kecelakaan waktu pesiar semasa menempuh pendidikan di Akpol Semarang, 1 karena tertubruk KRL di Jakarta beberapa waktu yang lalu, kemudian 1 lagi pada saat latihan terbang dengan Hawknya. Ada kesamaan diantara ketiga rekan yang telah mendahului kami. Ketiganya bertutur kata halus dan santun, tidak pernah berlebih-lebihan, juga tidak pernah usil terhadap sekeliling.

Bagaimana dengan saya?

 

 

UncategorizedFebruary 10, 2006 7:00 am


Bukan Milikku

Sering kali aku berkata,

ketika orang memuji milikku,

bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,

bahwa mobilku hanya titipan Nya,

bahwa rumahku hanya titipan Nya,

bahwa hartaku hanya titipan Nya,

bahwa putraku hanya titipan Nya,

 

tetapi,

mengapa aku tak pernah bertanya,

mengapa Dia menitipkan padaku?

Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?

 

Dan kalau bukan milikku,

apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?

 

Mengapa hatiku justru terasa berat,

ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?

Ketika diminta kembali,

kusebut itu sebagai musibah,

kusebut itu sebagai ujian,

kusebut itu sebagai petaka,

kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

 

Ketika aku berdoa,

kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,

aku ingin lebih banyak harta,

ingin lebih banyak mobil,

lebih banyak rumah,

lebih banyak popularitas,

dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,

Seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku.

 

Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika :

aku rajin beribadah,

maka selayaknyalah derita menjauh dariku,

dan Nikmat dunia kerap menghampiriku.

 

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.

Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",

dan menolak keputusanNya

yang tak sesuai keinginanku,

 

Gusti,

padahal tiap hari kuucapkan,

hidup dan matiku hanyalah untuk

beribadah…

 

"ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"

 (WS Rendra).