Salman,
sebentar lagi engkau akan kukhitankan,
tolong sabar, semoga kita masih punya waktu mnegais rezeki Allah, menjemput rezeki Allah
dalam liburan ini.
I love you son
I love you you more than you know
I love you
Salman,
sebentar lagi engkau akan kukhitankan,
tolong sabar, semoga kita masih punya waktu mnegais rezeki Allah, menjemput rezeki Allah
dalam liburan ini.
I love you son
I love you you more than you know
I love you

Yang Lazim
Manusia/diri kita sangat takut/khawatir lingkungan akan mempengaruhi kita lingkungan akan membahayakan kita. Pengejawantahannya lingkungan menjadi kambing hitam atas kesalahan kita/kegagalan kita.
Contoh soal :
1.
T =Pak Luluk kenapa terlambat dating ke ke kantor?
J =Iya soalnya tadi Pak Basuki terlambat njemput saya.
Maka pak basuki sebagai lingkungan Pak Luluk menjadi kambing hitam terhadap kegagalan Pak Luluk
2.
T = Nak, knapa nilai pelajaran bahasamu jelek?
J = Abis bu gurunya nggak enak cara ngajarnya
3.
T = Pak, kenapa mau keluar dari ecco?
J = Gimana ya, waktu kerjanya panjang, yang punya kafir denmark lagi.
Dan seterusnya dan seterusnya. Demikian Jamaah, Lingkungan selalu dikhawatirkan menjadi ancaman sehingga tidak heran jika banyak orang tua yang mewanti-wanti anaknya :
Nak, ati-ati milih teman dan seterusnya dan seterusnya.
Namun jamaah,
Islam menawarkan hal yang berbeda, konsep islam menghendaki tiap individu muslim tidak menjadi pengaruh buruk/perusak lingkungannya malah sudah semestinya menjadi model kebaikan bagi lingkungannya.
Fenomena kambing hitam terjadi karena manusia belum selesai menggarap dirinya, manusia mencari mudahnya untuk menyalahkan lingkungan yang mengakibatkan kesalahan pengelolaan diri.
Maka mulailah A’a Gym mengupas diri melalui 3Mnya
mulailah dari hal yang paling kecil
mulailah dari diri sendiri
mulailah dari sekarang
bersambung……………………………………………………………..(oleh pak adam/pakbas/pak saat)
Disarikan oleh Adam Hidafi Jusuf Dari Kajian bersama Ustadz Kholid tadi malam; Kita hendaknya selalu berhati-hati dalam beragama, tidak boleh menjalankan syariatnya secara ‘awur-awur’ an, tidak boleh ‘ngarang-ngarang’ sendiri. Dalam agama Islam sudah ada tuntunannya dan hendaknya dalam menjalankan hidup, mukmin harus berpegang teguh pada tuntunan/aturan/hukum yang telah ditetapkan dalam Islam. Yang pertama adalah Alquran, bila tidak ditemukan didalamnya maka Hadist bila belum ditemukan maka beristijhad (pen: mohon koreksi bila salah). Sudahkah kita mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allah? Untuk itu Ustadz Kholid mengajak kita mengkaji Qs 41, Fushshilat: 40 – 45
|
40. Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Kami, mereka tidak tersembunyi dari Kami. Maka apakah orang-orang yang dilemparkan ke dalam neraka lebih baik, ataukah orang-orang yang datang dengan aman sentosa pada hari Kiamat? Perbuatlah apa yang kamu kehendaki; Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. |
|
41. Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al Quran ketika Al Quran itu datang kepada mereka, (mereka itu pasti akan celaka), dan sesungguhnya Al Quran itu adalah kitab yang mulia. |
|
42. Yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. |
|
43. Tidaklah ada yang dikatakan (oleh orang-orang kafir) kepadamu itu selain apa yang sesungguhnya telah dikatakan kepada rasul-rasul sebelum kamu. Sesungguhnya Rabb-mu benar-benar mempunyai ampunan dan hukuman yang pedih. |
|
44. Dan jikalau Kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: "Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?" Apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: "Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka[1334]. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh." |
|
45. Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Taurat lalu diperselisihkan tentang Taurat itu. Kalau tidak ada keputusan yang telah terdahulu dari Rabb-mu, tentulah orang-orang kafir itu sudah dibinasakan. Dan Sesungguhnya mereka terhadap Al Quran benar-benar dalam keragu-raguan yang membingungkan. |
Arti dari ‘ayat’ yang dimaksud dapat berarti:
- tanda
- hukum/aturan.
Dalam ayat ini tepatnya bila difahamkan sebagai hukum/aturan.
Allah tidak menagih atau mempertanyakan apa-apa yang telah Dia berikan kepada kita akan tetapi Allah akan mempertanyakan aturan/cara kita menerima/menggunakan pemberian itu.
Bukan karena pohon itu yang membuat nabi Adam mendapatkan hukuman dari Allah melainkan ada aturan di situ yang telah dilanggar oleh nabi Adam.
Allah memberikan aturan-aturan kepada kita bukan dijadikan beban bagi kita melainkan sebagai bentuk Kasih dan Perlindungan. Sebagai contoh aturan mengenakan jilbab bukanlah untuk membebani kaum wanita melainkan bentuk KasihNya dan Perlindungan bagi wanita agar selamat.
Allah memerintahkan sholat, karena ada manfaat dari sholat yang dilakukan.
Islam itu mudah, tidak perlu dipersulit.
Dikisahkan, waktu itu ada orang yang datang kepada Rosul menanyakan: apa yang harus dilakukannya setelah ia bersyahadat kepada Allah dan Rosul?
Rosul menjawab; sholat
Lalu apa ya Rosul?
Zakat
Lalu apa lagi ya Rosul?
Puasa Romadhon
Lalu apa lagi?
Haji bagi yang mampu
Ada lagi ya Rosul?
Bass…
Cuma itu?
Ya..bass…cuma itu..
Lalu orang itu pergi dan setelah kepergiannya Rosul mengatakan: jika benar apa yang dikatakan oleh orang itu, dia masuk surga.
Yang dituliskan dalam Al Quran merupakan peristiwa yang pernah dialami oleh Rosul dan Rosul sebagai contoh bagi kita. Peristiwa yang dialami Rosul mewakili peristiwa sepanjang zaman dengan begitu berlaku pada jaman sekarang.
Nabi-nabi dan Rosul sebelum Muhammad berada pada zaman yang berbeda akan tetapi mereka menjalankan satu aturan agama, sedangkan kita yang sekarang yang berada dalam zaman yang sama, tidak mau memegang satu aturan (sesuai Al Quran) tetapi ada banyak aturan yang berbeda yang dianut meskipun mengaku agamanya sama, yaitu Islam. Kenapa?
Di negri kita, "thogho" (Al Alaq: 6) diartikan sebagai "melampaui batas".
Lantas apa batasan-batasannya? Bila disebutkan Al Quran sebagai (aturan) pembatasnya itu tidak benar karena Al Quran adalah sebagai petunjuk dan sebagai penawar hati (obat) bagi orang yang beriman.
Lebih tepatnya "thogho" bila diartikan sebagai "khosim" (disebutkan dalam Surat An Nahl) yang artinya dalam bahasa jawa "mberot".
Manusia punya potensial atau kecenderungan untuk "mberot" atau tidak mau mengikuti tuntunan atau aturan.
Manusia punya potensial untuk merasa "bisa" melakukan sendiri tanpa mengikuti aturan sebagai salah satu bentuk sifat sombong.
Al Quran diturunkan sebagai petunjuk bagi orang-orang mukmin, Fushshilat 44, bertakwa, Al Baqarah 2.
Qs 2, Al Baqarah: 2
|
2. Kitab[11] (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa |
Pada dasarnya manusia tidak tahu, kemudian di kasih tahu, baru kemudian tahu.
Bolehlah, menggunakan pikiran yang sudah diberikan Allah untuk mencari tahu, akan tetapi puncak dari pengetahuan atau pemikiran adalah "aku tidak tahu".
Silahkan anda praktekkan sendiri dan anda pahami.
Dalam Fushshilat 41, Al Quran disebut juga sebagai Al Dzikir, pengingat, petunjuk.
Siapa yang memberi petunjuk atau memberi tahu? Allah yang memberitahu dalam bentuk Al Quran kepada Muhammad, kemudian Muhammad memberitahu kepada umatnya sampai kepada kita.
Ada tiga kemungkinan manusia mengikuti aturan:
1. mengikuti aturan Allah, kalau tidak maka pasti
2. mengikuti aturan manusia, kalau tidak maka pasti
3. mengikuti nafsu sendiri
Yang tidak mengikuti aturan Allah pasti akan celaka, rusak/jahat atau menimbulkan kerusakan-kerusakan di muka bumi, semisal bencana alam dan sebagainya. Orang yang "rusak" menurut ilmu phisikologi dapat disebut juga orang yang stress. Orang yang stress bisa pasif, aktif atau hiper aktif. Yang pasif bisa mencelakakan diri sendiri, Yang aktif bisa mencelakakan orang lain. Yang hiper aktif bisa mencelakakan diri dan orang lain / lingkungan.
Sebagai contoh orang yang hiper aktif adalah "mak lampir".
Kenapa orang bisa stress?
Karena tidak mau mengikuti aturan. Sombong tidak mau mengakui ketidak tahuan / ketidak mampuannya, menempatkan diri pada bukan tempatnya.
Contoh, tidak mampu jadi presiden ‘ngeyel’ jadi presiden. Saat dituntut melakukan tugas sebagai presiden tidak mampu jadinya stress…sebagai dampaknya misalnya indosat dijual kepada negara lain….negara lain seperti amerika jadi punya akses dan tahu apapun tentang negara ini bahkan sampai ukuran celana dalam istri sampeyan..;-))
Rusak/kejahatan adalah lain dengan kebaikan. Keduanya tidak bisa dicampur.
Hendaknya kita tidak usah takut untuk memisahkan diri dari kaum musyrik.
Yang dihadapi Rosul adalah sejahat-jahat dan serusak-rusaknya manusia yaitu orang arab. Bila mereka jahat terang-terangan. Gak usah seprti orang jawa yang jahat tapi masih sembunyi-sembunyi….nggih..nggih..mboten kepanggih..mbendol mburi kayak belangkon.
)
Sebagai contoh, Rosul membuat pasar sendiri untuk kaum mukmin karena pasar yang ada dikuasai oleh orang Yahudi.
Bung karno insyaAlla juga ‘nyunnah’ ketika mengusir orang amerika dengan ungkapannya yang terkenal "go to hell with your aids" karena amerika hendak menekan Indonesia.
Presiden Iran Ahmad insyaAllah juga ‘nyunnah’ karena berani menekan balik amerika dengan berkata bahwa Iran juga bisa menyerang amerika ketika amerika mengancam akan menyerang Iran.
Dalam surat At Taubah ayat 28-29, telah disebutkan bahwa kita tidak perlu khawatir menjadi miskin karena Allah telah mencukupi dan kita diperintahkan untuk memerangi kaum yang tidak beriman. Dengan catatan, memerangi tidak harus selalu dengan senjata.
Qs 9 At Taubah: 28 – 29
|
28. Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis[634], maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam[635] sesudah tahun ini[636]. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin[637], maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. |
|
[634]. Maksudnya: jiwa musyrikin itu dianggap kotor, karena menyekutukan Allah. [635]. Maksudnya: tidak dibenarkan mengerjakan haji dan umrah. Menurut pendapat sebagian mufassirin yang lain, ialah kaum musyrikin itu tidak boleh masuk daerah haram baik untuk keperluan haji dan umrah atau untuk keperluan yang lain. [636]. Maksudnya setelah tahun 9 hijrah. [637]. Karena tidak membenarkan orang musyrikin mengerjakan haji dan umrah, karena pencaharian orang-orang muslim boleh jadi berkurang. |
|
29. Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah[638] dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. |
Ajaran orang mukmin adalah jujur.
Sholat adalah jujur, jujur antara hati dan muka adalah sama.
Jujur, aku tidak tahu.
Wis….sak mene ae….kesel nulise
)….
bisa dilengkapi oleh yang lain…monggo..
Wassalam,
Adam
Di dunia konstruksi titik tersebut sering disebut titik ikat, bench mark, marking, dst. Sebandel dan sekorup-korupnya proses pembuatan suatu bangunan, niscaya menggunakan tools bantu ini. Gunanya banyak sekali, antara lain agar bangunan menjadi lurus, berelevasi yang sesuai dengan rencana dan seterusnya.
Disebut titik ikat karena, semua pelaksanaan bagian dari suatu bangunan, mengacu atau diikat pada titik tersebut. Semua bagian dibuat xxxx m atau cm meter terhadap nol.
Demikian dalam kehidupan nyata manusia. Undang – undang adalah titik nol(Jika undang-undang dianggap sebagai titik nol, maka setiap deviasi terhadap undang – undang adalah pelanggaran),kunci jawaban bapak dan ibu guru adalah titik nol, peraturan perusahaan adalah titik nol, lebih lanjut Al Qur’an adalah titik nol demikian seterusnya.
Lha bagaimana kalo ada yang mengeluh : waduh saya harus mulai dari nol lagi. Berarti orang tersebut sudah semestinya bersyukur, karena dengan kembali ke titik nol, rute perjalanan akan lebih tepat, peluang tersesat lebih kecil.
Begitukah???????, Embuh!!
Lelaki yang nampang disebelah wamo (warung mobil) diatas bukanlah pengusaha pemilik usaha nasi bungkus tersebut. Beliau adalah rekan seperjalanan saya tatkala berangkat dan pulang dari tempat kerja.
Setiap hari kami selalu membeli masakan Ibu Nur (kalau enggak nasi krawu, ya nasi uduk) untuk mengawali pagi. Kedengarannya agak boros, tapi ada gairah lain yang tercipta setelah makan masakan Ibu Nur.
Seperti halnya Napza, mungkin kami sudah kecanduan dengan masakan Ibu Nur, sehingga terasa sekali perbedaan gairah bekerja jika satu hari saja tidak makan masakan Ibu Nur.
Adakah ini hanya masalah memuaskan keinginan lidah, atau jenuh bekerja di tempat sekarang????????????

Gambar diatas menunjukkan pengalaman saya ke Jakarta untuk pertama kali pada tahun 1990, suatu kebahagiaan tersendiri dapat melihat langsung ibu kota tanpa didampingi orang tua. Pada saat itu kami mengunjungi hampir semua ikon bersejarah yang ada di ibu kota termasuk instalasi militer yang tidak semua orang boleh masuk.
Seluruh pengalaman itu, rasanya masih termemori dengan baik, terlebih sampai saat ini ke 281 orang yang tampak di foto tersebut masih terjalin komunikasi yang baik. Setiap bertemu mereka selalu saja kenangan masa lalu yang dibicarakan. Bahkan uniknya beberapa kebiasaan, kelakuan, dan bahasa tubuh teman – teman rasanya tidak ada perubahan dari 16 tahun yang lalu. Yang berubah hanyalah status di masyarakat saja. Sekarang udah punya anak 3, sudah memiliki karir dan pendapatan sendiri dan seterusnya.
Tidak terasa, tahun demi tahun berlalu dengan sangat cepat. Mungkin demikian juga perasaan saya ketika saya menimang cucu pertama saya kelak. Tidak ada yang tahu itu.
O, ya beberapa rekan terbaik juga telah mendahului kami, hampir semua karena kecelakaan. Kalau tidak salah sudah 3 orang. 1 karena kecelakaan waktu pesiar semasa menempuh pendidikan di Akpol Semarang, 1 karena tertubruk KRL di Jakarta beberapa waktu yang lalu, kemudian 1 lagi pada saat latihan terbang dengan Hawknya. Ada kesamaan diantara ketiga rekan yang telah mendahului kami. Ketiganya bertutur kata halus dan santun, tidak pernah berlebih-lebihan, juga tidak pernah usil terhadap sekeliling.
Bagaimana dengan saya?
Bukan Milikku Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku, bahwa sesungguhnya ini hanya titipan, bahwa mobilku hanya titipan Nya, bahwa rumahku hanya titipan Nya, bahwa hartaku hanya titipan Nya, bahwa putraku hanya titipan Nya, tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku? Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku? Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini? Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku? Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ? Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah, kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka, kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita. Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku, aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak rumah, lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan, Seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku. Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika : aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan Nikmat dunia kerap menghampiriku. Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih. Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku, Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah… "ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja" (WS Rendra).